Tuesday, August 3, 2010

ChRisTianiTy ( part 2 )







ChRisTianiTy ( part 2 )

Apa yang berlaku sebenarnya di Persidangan Nicea?







Pada abad ini pertikaian faham sangat sengit membakar Gereja. Arius, biskup dari Alexandria, menolak ketuhanan Jesus yang menimbulkan kemarahan sebagian besar orang-orang Kristian. Akhirnya Emperor Konstantine menyelenggarakan persidangan di Nicea tahun 325 Masehi. 1800 orang yang diundang untuk hadir dalam persidangan ini terdiri daripada 1000 orang yang berasal dari Gereja Timur dan 800 dari Gereja Barat. 22 orang rombongan Arius yang dipimpin oleh Eusebius of Nicomedia, semuanya diusir dari forum.



Sehingga secara keseluruhan Konstantine telah mengusir keluar sekitar 1482 biskup dan hanya 318 yang diizinkan mengikuti hingga akhir. ( Dr. Henery Stbble, An Account of the Rise and Progress of Mohametanism, 1954, hal.44-45, Holy Blood Holy Grail hal.692, Arana-"Holocaust Theology" ).



Dari 318 suara tersebut hanya 2 suara yang mendukung Arius. Persidangan pertama yang dilaksanakan pada tarikh 20 Mei sampai 25 Jun diakhiri dengan ketukan palu yang mengesahkan Mysterious Credo, yang juga dikenal sebagai Sumpah Nicea (Nicea Credo). Sumpah Nicea yang sekarang bukanlah rumusan yang disepakati pada persidangan Nicea dulu, tetapi sudah diperluas dan diubahsuai. ( Prof. Percy Gardner, English Modernism,-Apendiks I, hal.223 ).



Yang paling penting dari semuanya, keputusan Persidangan Nicea diambil dengan cara pengambilan suara, bahwa Jesus seorang Tuhan bukan sekadar nabi yang boleh wafat. (Holy Blood Holy Grail, hal.472) Persidangan Nicea menjatuhkan hukuman pemulauan ke atas Arius (yang bertegas bahawa Jesus sekadar manusia) dan bskup lainnya yang ikut dalam persidangan tetapi menolak doktrin Triniti. Tulisan-tulisan Arius dibakar dan akan memasukkan ke penjara bagi siapa saja yang ditemui memiliki tulisannya. (Edward Gibbon, Decline and Fall of Roman Empire, vol.2, hal.693).



Pada persidangan tersebut Jesus dinyatakan sebagai, "Tuhan dari segala Tuhan, Cahaya dari segala Cahaya, Maha Tuhan dari segala Maha Tuhan". (Hasting's Encyclopedia of Etnics & Religion, vol.4, hal.239).

Lingkaran terpelajar masih berada di pihak Arius dan mereka telah dikekang dengan tangan besi. Dimasa itu populariti Arius mencapai puncaknya, yang dibuktikan oleh Santo Jerome sebagai berikut :



"Seluruh dunia merasa dan terhairan-hairan menemukan dirinya sebagai penganut Arius". (Wilfred W.Briggs, Introduction to the History of the Christian Church, hal.49)



Will Durant menulis :



"Perdebatan sengit tentang doktrin Triniti yang diperkenalkan oleh Athanasius tidak pernah berakhir dengan adanya persidangan Nicea. Beberapa biskup masih berpihak pada Arius"



Kelompok gereja yang masih setia kepada Sumpah Nicea disingkirkan dari Gereja; kadang kala disingkirkan oleh kekerasan penganut Triniti; setengah abad Gereja mengikuti ajaran Arius dan meninggalkan ketuhanan Jesus. Setiap bskup memiliki bukti-bukti bertulis yang mendukungnya. Pertikaian antara dua golongan ini pecah menjadi kerusuhan berdarah, dan banyak yang terbunuh. (Will Durant, Age of Faith) Pemandangan dari kekerasan yang mengerikan dan pertempuran yang menelan ribuan jiwa, merupakan perkara yang biasa selama era ini.



Alexandria (Iskandariah), daerah tempat tinggal Arius, menjadi ladang pertikaian yang paling ganas. Gibbon mencatat, satu insiden kekerasan menelan korban "tiga ratus lima puluh jiwa". Mengenai kekejaman Gereja dalam masalah ini dibahas lengkap dalam buku Edward Gibbon (pasal 21). Dimasa pemerintahan Konstantin, merupakan era emas bagi Kristian kerana mendapatkan kitab suci Bible yang standard. Itu pun tidak mampu dikerjakan tanpa kontroversi yang dahsyat melalui persidangan-persidangan Gereja. Sebagaimana dicatat oleh Marjorie Bowen : "Kitab-kitab injil harus diubahsuai beberapa kali sebelum diterima, orang-orang yang dianggap sesat harus dihadapi, serta menyelenggarakan persidangan di Nicea tahun 325 Masehi dan di Konstantinopel tahun 381 Masehi untuk merumuskan dogma dan keimanan agama Kristian." (Marjorie Bowen, The Church and Social Progress, hal.4-5)



Persidangan Constatinople, Tahun 381





Theodosius I menyelenggarakan Persidangan Konstantinopel untuk membahas lebih jauh tentang ketuhanan Jesus. Persidangan ini berakhir dengan memberi penegasan pada Sumpah Nicea. Pada Persidangan Ephesus, Tahun 431, persidangan ini diselenggarakan untuk membahas pertanyaan apakah Maryam (Ibu Jesus) manusia asli atau termasuk Tuhan.

Pembahasan ini diadakan kerana aliran Maronite menyembah Maryam (Madonna-Virgin Mary) sebagai "Ibu Tuhan" dan memasukkannya sebagai salah satu oknum Triniti pengganti "roh suci". Persidangan ini mengutuk penyembahan terhadap Maryam. Pada Persidangan Chalsedon, Tahun 451, telah membahaskan tentang teori Dua Kudrat Jesus. Persidangan Konstantinopel, Tahun 553 pula diselenggarakan untuk memecahkan teka-teki kudrat Jesus tersebut. Persidangan ini didominasi oleh biskup-biskup Gereja Timur, Gereja Barat menolak semua keputusan dari persidangan ini. Pada abad ini diputuskannya tentang Natal (Krismas) pada 25 Disember oleh Dionysius Exiguus, mengadaptasikan hari kelahiran anak dewa Matahari yang lahir pada hari Minggu, 25 Disember. Pada akhir abad ke-6 lahirlah Islam.

Kristian telah menyimpang demikian jauh dari ajaran aslinya (ajaran Jesus) bahkan Gereja Barat lebih banyak menyerap agama Pagan. Kristian mengalami kerosakan hingga akarnya. Ketegangan antara Gereja Timur dan Gereja Barat berangsur-angsur melemah. Gereja Timur hanya memiliki sedikit pengikut, sebagai akibat ribuan pemeluk Kristian beralih ke agama Islam. Dan hampir semua wilayah Mediterranian berada dibawah pengaruh Islam.

"Mungkin karena pengaruh secara tidak langsung dari agama baru Islam yang anti-musyrik, pada abad ke-8, tentara Emperor Isauria... menemukan sesuatu yang tidak disukainya pada peribadatan yang sudah lama berlaku dalam dunia Kristian yang berbau politeisme." (J.M Robertson, A Short History of Freethought, vol.1, hal.277).

Selanjutnya untuk pertama kali dalam sejarah Kristian pada tahun 723 tradisi Pagan dalam tata cara kebaktian agama Kristian dilarang oleh Emperor Leo melalui pengumuman, dan dia lebih condong pada ajaran monotheistik Islam. Bagaimanapun, larangan ini dicabut pada tahun 787 oleh persidangan ke-II di Nicea. (The Invacation of Saints and Adoration of Images, oleh Rev. W.P. Hares, hal 10-11).

Pemilihan Kitab Injil disebarkan dari mulut ke mulut sehingga tradisi oral ini menghasilkan laporan yang berlainan satu dengan lain terhadap perkataan dan perbuatan Jesus. Ketika mereka berusaha mendokumentasikannya maka bertambahlah perbezaan-perbezaan akibat variasi verbal. Sarjana-sarjana Kristian mengakui fakta sejarah bahwa pada terdapat juga sejumlah Injil-injil yang lain, dan masing-masing gereja mempunyai versinya sendiri.

Sebagian sarjana mempercayai bahwa jumlah Injil-Injil tersebut mencapai 300 Injil (Holy Blood Holy Grail, hal.692). Tapi bagaimana yang yang terpilih hanya 4 saja ? Keempat Injil tersebut (Matius, Markus, Lukas & Yohanes) dipilih pada saat Persidangan Nicea 325 Masehi. Persidangan yang memperkenalkan konsep Triniti untuk pertama kali. Sehingga pemilihan ke-4 Injil tersebut adalah penyesuaian terhadap sumpah yang dipaksakan. Maka semua Injil yang menceritakan tentang kemanusiaan Jesus harus di hancurkan.

Teknik pemilihan Injil-Injil tersebut adalah, semua naskah Injil yang berbeza-beza diletakkan dibawah sebuah meja di ruang persidangan. Setiap orang diminta meninggalkan ruangan tersebut dan pintunya dikunci. Semua biskup diminta untuk berdoa sepanjang malam supaya versi Kitab yang benar akan berada di atas meja tersebut. Pada keesokan paginya, ke-4 Injil, Matius, Markus, Lukas dan Yohanes dengan "ajaib"nya telah berada diatas meja dengan rapi, sisanya berserakan dibawah meja. Sehingga diputuskan semua yang terletak dibawah meja haruslah dibakar. (Sex in the Bible, Wahyudi).

Pemilihan Bible bukan dibuat dengan akal yang sihat dan ilmu pengetahuan tetapi dengan penuh pembohongan dan silap mata.



Maka mulailah disini pembunuhan manusia besar-besaran, dimana siapa saja yang menolak ajaran Jesus Tuhan dan manusia dibunuh dengan bermacam-macam cara yang keji.Sebelum ini golongan Nasrani diburu dan dibunuh,kini golongan yang sama juga diburu dan dibunuh. Persidangan Nicea ini rupa-rupanya belumlah dapat menampung segala aspirasi umat. Maka mereka kemudian mengadakan persidangan kedua dikota Konstantinople (kini Istanbul) pada tahun 381 M, yang memutuskan lagi bahawa Anak adalah Homo Osius dengan Bapa (Creator).

Didalam persidangan kedua ini pula mereka menambahkan entiti Rohulkudus sebagai oknum ke-III dari Allah, sehingga lengkap lahirlah Tuhan Allah Bapa, dan Anak serta Rohulkudus. Didalam tahun-tahun inilah kemungkinan besar orang mulai menambah-nambah Injil Matius dengan tulisan: Pergilah keseluruh dunia baptiskanlah seluruh bangsa dengan nama Bapa, dan Anak dan Rohulkudus (Matius 28:10).

Persidangan ke-III diadakan dikota Ephesus tahun 439 M, didalam persidangan inilah dikeluarkan perintah untuk mengutuk ajaran-ajaran Nestorian dan Arianisme yang bidaah itu. Merekapun mengeluarkan pernyataan perang terhadap Injil, dimana seluruh Injil-injil yang asli dimusnahkan atau dituduh 'gnostik' atau 'apochrypha'. Sebagaimana kita mengetahui, semasa Jesus hidup beliau mempunyai pula pengikut-pengikut, yang kian kemari menuliskan khutbah-khutbah dan ajaran-ajarannya sebab pada zaman itu memang alphabet Aramaik (huruf-huruf) telah ditemukan. Murid-murid Jesus ada 70 orang. diantaranya 12 yang disebutkan namanya didalam Injil. Dari catatan-catatan murid-murid Jesus ini, kemudian hari kita kenal telah dibukukan dengan nama Injil, yang dinamai oleh masing-masing penulisnya seperti: (1) Injil Markion, (2) Injil Mesir, (3) Injil Eva, (4) Injil Yudas, (5) Injil Nicodemus, (6) Injil Thomas, (7) Injil Barnaba, (8) Injil Matius, (9) Injil Yosepus, (10) Injil Duabelas, (11) Injil Kebenaran, (12) Injil Maria, (13) Injil Jesus, (14) Injil Andreas, (15) Injil Pilipias, dan lain-lainnya

Tahun 306 M merupakan tahun keemasan dalam sejarah gereja. Pada waktu itu Konstantin I memegang tampuk pemerintahan Emperor Rom. Kemudian dia menganut agama Masehi dan menjadikannya sebagai agama rasmi negara, dengan demikian tergenggamlah kekuasaan agama dan dunia dalam satu waktu, sehingga menjadikan pemerintahan Rom sebagai pemerintahan suci. Pada waktu itu, urusan Gereja diserahkan kepada lima orang pastor besar yang dinamakan Patriarch atau Paus-paus. Mereka bekerja di bawah pemerintahan pastor-pastor kecil lainnya.

Orang pertama yang menyusun dengan rapi sistem kepausan dan ikut mendukungnya adalah Gregory I (540-609 M). Ketika pengaruh gereja makin luas, Paus diangkat sebagai sumber kekuasaan agama dan dunia, dan menerima kekuasaan tidak terbatas. Melanggar titah dan perintahnya adalah dosa besar (diktator). Ia mempunyai hak dalam menyusun undang-undang, para emperor tidak memiliki jalan lain, selain takluk dan tunduk kepadanya. Semua orang tunduk dalam masalah agama dan dunia kepada lapisan pastor dan susunan kepegawaian. Mereka seperti bentuk sebuah piramid dan Paus berada di puncaknya. Peristiwa ini terjadi hingga sampai menimbulkan pertentangan antara PAUS & ILMUWAN.

Terhadap peristiwa ini, Paus bukannya mengambil hikmah dan manfaat terhadap Ilmu Pengetahuan dalam mengatur peraturan dan pengurusan kehidupan manusia dan alam semesta, tetapi beliau menangkap semua orang yang berbicara tentang sistem ilmu tersebut karena dianggap bertentangan dengan faham agama yang yang tidak boleh dibantah. Paus menghukum orang-orang yang dicurigainya itu dengan sadis, buas dan ganas. Paus mengadakan pengadilan (Mahkamah Inquisition) (tahun 1478 M) untuk menyiasat dan membicarakan orang-orang yang dicurigai. Mereka ditangkap dan dihukum dengan berbagai macam hukuman yang berkisar antara denda wang dan hukuman bakar hidup-hidup. Mahkamah-mahkamah ini sudah menjatuhkan hukumannya kepada 340.000 orang (antara 1481-1808). Lebih kurang 32.000 orang yang dihukum bakar hidup-hidup!



Dalam kurun waktu 18 tahun, Torquemada telah membakar hidup sekitar 210.220 orang dan menghukum dengan hukuman yang lain sekitar 97.000 orang. Bahkan mayat orang mati itu tidak diperlakukan dengan wajar. Mereka malah menghina 6.860 mayat para ilmuwan dan ahli falsafah yang dihukum bakar hidup-hidup itu.

Meskipun Paus sudah berupaya dan bertekad memadamkan sinar ilmu pengetahuan, namun sinar ilmu pengetahuan semakin terang pancaran cahayanya. Akhirnya dikeluarkanlah peraturan baru pada tahun 1515 M, yakni melarang terbitnya buku apapun, sebelum mendapat persetujuan dari Gereja. Setiap orang yang mencetak atau menjual buku dengan begitu saja akan dijatuhi hukuman mati. Seperti Kisah GALILEO yang mati dalam penjaranya karena menyatakan bumi itu bulat, dan dibakarnya BRUNO yang menyatakan adanya planet-planet lain, selain dari bumi dan sebagainya.

Kepemimpinan dan akhlak gereja merosot drastik, Paus sudah menjelma menjadi musuh Ilmu Pengetahuan dan gereja ditegakkan diatas kemusyrikan. Maka meratalah kerosakan moral keseluruh lapisan masyarakat. Penyakit sifilis bahkan menjalar menjangkiti banyak orang, termasuk PAUS LEO X sendiri!

Hasilnya semua bentuk kerendahan budi pekerti dan akhlak sudah menjadi ciri kehidupan dan pergaulan pada masa itu. Semua bentuk keluhuran nilai dan moral hancur luluh. Petaka itu terlebih dahulu menimpa para ahli agama, sebelum penyakit itu menyerang masyarakat awam, padahal masyarakat itu berkeyakinan bahwa Paus adalah bayangan Tuhan dan wakil Isa Almasih. Keputusan-keputusannya selalu dianggap benar dan tidak boleh dibantah. Beliau menggugurkan dosa dan menanggalkan kesalahan orang dengan kesuciannya bagi yang tergelincir jatuh kedalam dosa.

Perkembangan akidah semacam ini merebak cepat. Hal ini memaksa Paus membuat Akta Pengampunan yang dimulai dengan pengumuman Paus Erien II dalam Perang Salib atas restu Paus Urban II (1088-1099M) dari Vatikan, Siapa yang tidak dapat ikut langsung dalam peperangan ini, hendaknya mengirimkan seorang wakilnya, maka Paus akan memberinya Akta Pengampunan yang mampu menyelamatkan di hari Kiamat kelak.


Ketika Paus Leo X ingin membangun gereja suci Paulus di Rom, dalam pembangunannya memerlukan dana, maka mulailah beliau mencanangkan akta-akta semacam itu dan ternyata laris. Kemudian mereka mengembangkannya lagi dengan menyatakan Akta Khusus dengan harga tertentu. Bunyi akta itu:


"Atasmu rahmat Tuhan Jesus Almasih mengampuni kamu dengan rahmatnya semua dosamu, dan saya mengampuni dosamu berdasarkan mandat yang diberikan Jesus dan muridnya, Petrus dan Paulus yang pertama tentang semua perbuatanmu melanggar gereja bagaimanapun bentuknya, kemudian semua pelanggaran atau kesalahan bagaimanapun besarnya. Saya akan angkat semua rintangan yang sudah ditetapkan menimpamu karena dosa-dosamu di neraka, sehingga apabila kamu mati tertutup semua pintu nereka bagimu dan terbuka semua pintu syurga bagimu dengan nama Bapa, Anak dan Roh kudus. "


Setelah itu diletakkanlah daftar harga bagi semua dosa dan kesalahan. Tiap-tiap ejen penjual akta menyimpan selembar salinannya dan aslinya terpampang di Gereja. Dalam daftar itu disebutkan bermacam-macam dosa berikut harga Akta Pengampunannya, antara lain:

Menggugurkan Kandungan :3 Shilling dan 6 pence
Mencuri :9 Shilling
Memperkosa seorang Gadis :9 Shilling
Berzina :7 Shilling dan 6 pence
Membunuh :7 Shilling dan 6 pence

Lawak jenaka ini tidak hanya mengenai dosa orang-orang yang masih hidup. Dosa-dosa orang yang sudah mati pun mampu dibelikan akta pengampunannya untuk mensucikan dosa-dosanya. Selain itu, tersebar pula iklan yang digantung dimana-mana yang berisi anjuran agar segera membersihkan dosa-dosanya dengan membeli akta tersebut. Dengan demikian banyaknya akta tersebut diperjual belikan, maka semakin banyak pula tindak kejahatan dan maksiat, karena semua dosa dapat ditebus dengan harga yang relatif murah. Maka masa pemerintahan gereja merupakan masa yang paling BURUK dalam sejarah kejahatan. Masa itu merupakan masa merebaknya berbagai jenis kejahatan, kekacauan, kezaliman dan kerosakan moral kerana tidak lagi adanya rasa takut bagi masyarakat pada saat itu untuk berbuat jahat, kerana segala kesalahan dapat ditebus hanya dengan membeli akta. (Manken dalam bukunya Treatise on Right on and Wrong on hal.187-198).


SEbenarnya penyelewengan dalam agama Kristian bermula seawal era Paul (Paulus) lagi.Dan Paul sendirilah dalang penyelewengan itu.Siapakah Paul?Paul ialah Yahudi warganegara Rom yang sebelum itu ikut menyeksa kaum Nasrani (Kristian).Selepas itu dia dikatakan bertaubat dan menjadi teman seperjalanan Barnabas-seorang sahabat Nabi Isa a.s.


sambung ke part 3 <----klik

No comments:

Post a Comment